Sky Castle, Drakor Satire yang Membuka Sisi Gelap Pendidikan di Korsel

GENIAL. Berdasarkan penelitian The Social Progress Imperative di tahun 2020, ada 20 negara yang mempunyai sistem pendidikan terbaik di dunia. Dalam laporan MBC Times, ditulis: 20 Best Education System In The World. Nomor satunya adalah Korea Selatan. Urutan kedua Jepang, lalu Singapura, Hongkong dan kelima Finlandia. Setelah itu negara-negara di Eropa, Amerika Serikat, Kanada, Australia dan Selandia Baru.

Tak mengherankan, tingkat literasi di Korsel mencapai 100 persen. Budaya bimbingan belajar, bukan main. Anak-anak di Korsel, 16 jam belajar. Usai pulang sekolah, mereka wajib mengikuti bimbingan belajar, hingga baru pulang ke rumah jam 10 malam. Para orang tua pun rela merogok kocek jutaan won untuk mencari bimbel terbaik.

Penjurusan minat dan bakat siswa di Korea Selatan dilakukan sejak dini. Dan harga diri rata-rata orang tua akan meningkat bila anak-anaknya masuk ke perguruan tinggi papan atas. Memasuki kampus terbaik adalah tahapan menuju puncak piramida kesuksesan.

Dan itulah yang digambarkan dalam film Sky Castle, yang kutonton di WeTV. Selama pandemi, ini film drama Korea ketiga yang saya lihat. Sebelumnya, The World of The Married dan Chicago Typewriter. Total film Sky Castle adalah 20 episode. Masing-masing episode berdurasikan 1 jam.

Sky Castle adalah komplek perumahan elit di Korsel. Penduduknya adalah para gurubesar dan doktor. Ada ratusan keluarga yang tinggal di komplek perumahan ini. Namun dalam film ini ditonjolkan beberapa keluarga yang menjadi fokus utama.

Pertama, kehidupan keluarga Han Seo Jin (Yum Jung Ah), istri dari profesor bedah ortopedi Kang Joon Sang (Jung Joon Ho). Mereka memiliki dua anak perempuan, satu SMA bernama Kang Ye-Seo dan seorang lagi SMP bernama Kang Ye-Bin

Kedua, keluarga No Seung Hye (Yoon Se Ah), istri dari gurubesar hukum, Cha Min Hyuk. Mereka punya tiga anak, yang pertama kuliah di Harvard, dan anak kembar yang masih SMA.

Ketiga, keluarga Jin Jin Hee (Oh Na Ra). Anak borju yang labil ini menikah dengan seorang ahli bedah ortopedi, Woo Yang Woo (Jo Jae Yun).

Ketiga keluarga ini bersaing meningkatkan prestise dengan mendidik anak-anaknya dengan sangat keras. Selain sekolah, juga wajib ikut bimbingan belajar. Apalagi tetangga mereka berhasil memasukkan anaknya ke Fakultas Kedokteran di kampus nomor satu. Anak-anak mereka pun dipaksa untuk serius belajar, hingga anak-anak itu stress. Namun di saat yang sama mereka tak bisa melawan kehendak orang tua, lebih-lebih di Korea Selatan, anak yang tidak masuk kampus favorit akan dianggap sampah masyarakat.

Anak-anak di perumahan elit itu dipaksa bertempur dengan waktu. Tidak ada jam untuk jalan-jalan, atau hari untuk liburan. Tak ada hari dan jam tanpa belajar dan belajar. Tantangan mereka adalah ujian dan ujian di sekolah. Mengejar nilai terbaik di sekolah adalah kepastian. Dan bila anak bernilai buruk di sekolah, orang tua akan gagal dan sial.

Film drama Korsel yang diputar di Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Sri Lankan, India dan Vietnam ini mau mencerminkan sistem pendidikan di Korsel dengan kritis. Anak-anak bukan semacam anugerah ilahiyah, yang sebagimana dikatakan Gibran, bahwa mereka adalah putera-puteri kehidupan–bukan semata anak-anak dari orangtuanya.

Di film dengan rating tertinggi dalam sejarah TV kabel di Korsel ini, anak-anak digambarkan menjadi konsumsen sistem pendidikan dan hanya menjadi alat kebanggan bagi orang tua. Sejatinya kesukseskan anak, hanya dorongan psikologis orang tua untuk menunjukkan eksistensinya. Eksistensi orang tua runtuh seketika bila anak-anak mereka bernilai B, dan bukan A.

Salah satu film drama terbaik JTBC ini mengkritik sistem pendidikan di Korsel. Misalnya dengan kemunculan Lee Soo Im (Lee Tae Ran), seorang penulis buku anak-anak. Berbeda dengan keluarga lainya yang tinggal di Sky Castle, Lee Soo Im tak peduli dengan pendidikan formal yang selalu bertujuan pada nilai di sekolah. Apalagi nilai di sekolah bisa diperoleh dengan beragam kecurangan.

Lee Soo Im sendiri pindah ke Sky Castle setelah ada satu keluarga sebelumnya yang berantakan hingga harus meninggalkan perumahan bergengsi itu. Keluarga seorang gurubesar itu hancur setelah anaknya yang masuk Fakultas kedokteran kabur, karena menganggap kehidupan keluarganya ibarat neraka. Ibunya sendiri mati bunuh diri.

Film ini menjadi semacam kritik sosial di tengah sistem pendidikan Korea Selatan. Sebab di balik kesuksesan sistem pendidikan di Korea Selatan, ada kegilaan massal. Para keluarga berburu waktu dan anak-anak harus disiksa dengan sistem pendidikan yang begitu penuh persaingan. Hal ini menggerus nilai-nilai kemanusian, dan bahkan membunuh mental anak-anak.

Film yang disutradari oleh Jo Hyun-tak ini seakan membongkar fakta-fakta lain di Korsel. Tak heran, inilah film genre komedi gelap sekaligus satir.

Fakta di tengah keberhasilan sistem pendidikan Korsel adalah data WHO. Berdasarkan data WHO, tingkat bunuh diri di Korsel berada di urutan tertinggi ke-10 di dunia. Bunuh diri pun menjadi sebab kematian tertinggi keempat di Korsel pada tahun 2012. Pada tahun 2015, masih berdasarkan data WHO, tingkat bunuh diri di Korsel mencapai 28,3 per 100 ribu di 2015.

Berdasarkan data Kantor Statistik Nasional Korea, pada tahun 2010, ada 353 remaja berumur 10 sampai 19 tahun melakukan bunuh diri. Rata-rata tiap hari, ada satu remaja yang bunuh diri. Disebutkan sebanyak 88 siswa yang bunuh diri berasal dari sekolah menengah atas, 48 dari sekolah menengah pertama dan tiga dari sekolah dasar. Masih menutut laporan tersebut, sekitar 40 persen orang yang bunuh diri karena dipicu masalah yang berkaitan dengan keluarga, 16 persen karena depresi, dan 11,5 persen terkait tekanan saat ujian sekolah. [***]

Yayan Sopyani Al Hadi

Penikmat film dan drama-drama Korea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *