Selamat Jalan Iqbal…

GENIAL. Rumah Sakit Fatmawati. Kamis, 26 Agustus 2021, di lantai 6 gedung Anggrek, saya menerima penjelasan dokter soal kondisi Iqbal Hasanuddin. Beberapa istilah medis yang saya tak paham meluncur dari bibirnya. Intinya, kondisi Iqbal belum sadar. Dokter pun memberikan hape Iqbal kepada adiknya, Iyus.

Jumat, 27 Agustus, Iqbal masih belum sadarkan diri. Gedung Anggrek sendiri merupakan ruang isolasi. Hasil PCR pertama, Iqbal negatif Covid-19. Dan untuk pindah ruangan dari gedung isolasi, perlu hasil PCR kedua. Sejumlah kolega menghubungiku, terutama teman Iqbal dan teman saya di Forum Agama dan Filsafat.

Sabtu, 28 Agustus, hasil PCR kedua Iqbal keluar. Hasilnya negatif. Iqbal pindah ke ruangan di Bougenville lantai 4. Saya lega. Di hari Minggu, 29 Agustus, Iyus mengabarkan bahwa Iqbal sudah merespons meski dengan sangat terbatas.

Minggu malam, jam 21:30 WIB, saya mematikan hape. Saya tidur lebih awal dari biasanya, dan terbangun pukul 03.00 WIB, Senin dinihari, 30 Agustus. Setelah membaca 60 ayat al-Qur’an yang biasa saya lakukan setiap qobla atau ba’da subuh, saya baru menghidupkan kembali hape. Ternyata ada beberapa panggilan dari Iyus dan Kang Ariful. Pesan masuk: inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Kang Iqbal meninggal dunia.

**

Dua puluh tahun lalu, tahun 2001. Di rumah kontrakan yang menjadi tempat kajian Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci), seorang mahasiswi yang nampak lugu membawa selebaran berisi informasi kajian Filsafat Iqbal. Mahasiswi itu bertanya sambil menunjuk Iqbal Hasanuddin, mahasiswa semester 5 Aqidah Filsafat UIN Jakarta: “apakah Kang Iqbal ini?”

“Iqbal mana lagi?” jawab Iqbal Hasanuddin sambil tersenyum kecil. Saya ikut tersenyum. Si mahasiswi yang saya tak tahu namanya itu nampak percaya. Mungkin dia tak tahu Sir Muhammad Iqbal, sang penyair-filusuf dari India itu. Saya sendiri tak ikut kajian soal Sir Iqbal sebab lagi intens berkenalan dengan tiga orang, yang juga dikenalkan Iqbal Hasanuddin.

Kali pertama saya bertemu dengan Iqbal, di Formaci itu, ia menghentak saya dengan pernyataan: “Jangan mengaku anak Ciputat kalau belum baca Rahman, Cak Nur dan Wahib”.

Tentu saja, saya, yang baru keluar dari Pesantren Persatuan Islam (PPI) 67 Benda Tasikmalaya, tak terlalu ramah dengan nama-nama itu. Saya lebih ramah—melalui tulisannya—dengan Pak Natsir, Buya Isa Anshory, Kang Endang Saepuddin Anshary atau Pak AM Saefuddin. Lebih jauh dengan Cak Nun atau Kang Jalal, yang tulisan-tulisannya saya baca sejak SMP.

Gara-gara Kang Iqbal itulah saya melahap buku Rahman, buku-buku Cak Nur dan curhatan Wahib. Sedikit banyak, perjumpaan dengan Iqbal membuat saya memperluas horison. Ia membawa jauh kepada pemikir-pemikir progresif lainnya. Nama-nama yang di kampung halaman disebut kurang ramah, malah kian bikin penasaran dan mulai digandrungi. Bisa dipastikan, Iqbal ikut mempengaruhi cara pandang saya pada setiap gagasan yang berbeda. Pun demikian dengan keterbukaan. Dalam hal ini, meski terpaut tiga tahun, Iqbal adalah guruku.

Meski merambah jauh ke berbagai sudut lingkar pemikiran, nampaknya kecintaan Iqbal pada Persatuan Islam (Persis) tak pernah pudar. Iqbal adalah jua alumni PPI Majalengka. Sekitar tahun 2002 atau 2003, Iqbal menjaring anak-anak alumni PPI yang sudah terserak di berbagai organisasi untuk terus berkomunikasi dan berkontribusi. Saya sendiri sudah aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Iqbal dan Kang Ian menggagas Studia Holistika, yang namanya dirumuskan di kostan Kang Ian dan lembaganya dideklarasikan di aula IMM Ciputat. Studia Holistika pun menjadi ruang bertemu dan berdiskusi alumni PPI yang sudah menyebar dimana-mana. Saya sendiri terus aktif di IMM, sambil sesekali bermain ke Studia Holistika.

Lama tak bersua dengan Iqbal, bertahun-tahun, sampai saya tinggal di Bojongsari Depok. Kalau tak salah, di tahun 2015-an, Iqbal mengontakku. Ternyata rumah Iqbal juga tak jauh dari kediamanku. Satu kecamatan, hanya beda kelurahan. Iqbal pun silaturrahim ke rumah, dan dengan senang hati saya menyambut. Iqbal sudah punya anak dua, pun demikian denganku.

Karena di rumah tak ada istri, untuk menjamu, saya ajak ke sebuah rumah makan yang tak jauh. Rumah makan ini terkenal dengan gurame-nya dan selalu ramai pengunjung. Untuk menyambut perjumpaan kembali dengan Iqbal setelah sekian tahun, saya memesan gurame besar yang cukup untuk bertiga. Apa daya, saya kaget, Iqbal mengatakan bahwa ia tak makan daging lagi sekembali dari India. Saya hormati beliau.

Komunikasi terus berlanjut. Beberapa kali Iqbal ke rumah saya sekedar untuk diskusi, atau sama-sama mencari tempat ngopi–yang biasanya Kang Iqbal cuma minum air mineral. Kadang di sekitar Jakarta, kadang juga di dekat rumah kami. Karena saya sudah aktif di PP Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) PDI Perjuangan, saya sempat pula mengundang Iqbal untuk menjadi narasumber peringatan Nuzul al-Quran di kantor DPP PDI Perjuangan di Lenteng Agung. Saat itu, Iqbal dipanelkan dengan pakar tafsir Muhammadiyah, DR Izza Rohman.

Di tahun 2019, jantung saya membengkak dan dirawat di rumah sakit di Ciputat beberapa hari. Iqbal di antara orang yang datang pertama kali. Pun saat Iqbal dirawat di rumah sakit UIN, saya datang menengok—meski bukan yang pertama. Meski sakit, dalam perjumpaan, Iqbal selalu membincangkan soal pemikiran dan gagasan-gagasan apa yang harus dijalankan. Itulah Iqbal, selalu serius dan begitu idealis.

Hingga dalam satu senja, bersama Sukron—PP Pemuda Muhammadiyah—kami menggagas untuk menulis buku bersama. Buku ini muncul seiring dengan anggapan bahwa Soekarno tidak memahami ajaran Islam dengan baik sehingga mendirikan negara Pancasila, dan bukan negara Islam. Kami sepemahaman, karena pemikiran Soekarno pada Islam yang mendalam itulah Soekarno mendirikan negara Pancasila. Iqbal juga berpendapat bahwa Soekarno seorang mujaddid muslim. Hingga kini, buku itu belum tuntas—dan saya bertekad untuk menuntaskannya sebagai hadiah bagi Iqbal.

Di sela pengerjaan buku itu, yang kemudian terputus gara-gara Covid-19, sebab sejak semula direncanakan melakukan riset lapangan ke Surabaya, Bandung, Ende dan Bengkulu itu, Iqbal menawarkan untuk melakukan diskusi mingguan sebagai kontribusi intelektual kepada publik. Saya sangat antusias dan menyambut baik, lalu disepakati tokoh-tokoh filsafat menjadi bahan kajian. Jadilah itu Ngaji Filsafat Malam Jumatan dengan moderator tetap Neni Nurhayati.

Kalau lagi teleponan, Iqbal selalu mengatakan bahwa mengisi Kajian Filsafat itu merupakan hiburannya. Saya sangat senang sekali mendengarnya. Wujud kesenangan saya, setiap Kamis sore, saya share agenda kajian itu ke 2.000 kontak di hape saya dari berbagai kalangan. Meski peserta tak pernah lebih dari 100 orang, kami senang. Iqbal malah mengatakan, andaikan yang datang cuma bertiga, kajian akan tetap jalan. Iqbal sosok yang konsisten dan komitmen.

Lebih jauh, Iqbal tak hanya mau berkontribusi secara intelektual. Dan ini wujud lain kecintaanya pada PERSIS. Ia mengontak saya, bercita-cita mau mendirikan koperasi untuk teman-teman alumni Studia Holistika atau teman-teman alumni HIMA/HIMI di Jakarta. Tujuan koperasi, selain untuk membantu ekonomi/usaha sesama alumni, juga ke depannya untuk bisa memberikan beasiswa kepada alumni PPI yang kuliah di Jakarta.

“Kalau Kang Yayan setuju, saya kontak yang lain,” ungkap Iqbal, yang disambut langsung dengan kesetujuan sambil memastikan bahwa apa saja yang Iqbal rencanakan pasti akan saya setujui. “Baik, nanti pakai link zoom Genial saja ya, dan saya akan kontak teman-teman,” lanjut Iqbal. Secara faktual, koperasi itu sudah berjalan dan harus terus dilanjutkan.

Hari ini, 30 Agustus 2021, saya mengantarkan Iqbal hingga peristirahatan terakhir. Kulihat WA, ada ratusan pesan masuk dari berbagai kalangan, profesi dan latar-belakang, termasuk tokoh dan aktivis dari beragam agama dan aliran pemahaman. Itulah cerminan Iqbal, sosok yang sangat terbuka, pluralis dan Pancasialis sejati.

Kulihat satu pesan, dari ustadz Syam, pengurus Ikatan Jamaah Ahlul Bait (Ijabi) yang sempat ikut kajian Filsafat Malam Jumatan. Beliau mengirim WA kepada saya bahwa beberapa hari lalu sudah menyusun rencana membuat serial kajian Filsafat sebagai Way of Life untuk melanjutkan serial kajian ustadz Jalaluddin Rakhmat, serta memasukkan nama Iqbal sebagai narasumber. Semoga Iqbal bisa berjumpa dengan Ustadz Jalal dan orang-orang shalih lainnya.

Meninggalkan kuburan Iqbal, kuingat bisik-bisik Sir Muhammad Iqbal pada Hasan:

Melodi perpisahan kan bergema kembali atau tidak

Angin Hijaz kan berembus kembali atau tidak

Saat-saat hidupku kan berakhir

Pujangga lain kan kembali atau tidak

*

Kukatakan padamu ciri seorang Mukmin
Bila maut datang, akan merekah senyum di bibir.[***]

Yayan Sopyani Al Hadi
Pemimpun Umum Genial Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *