Mengenal “Lightning To The Nations”, Album Yang Menginspirasi Metallica

GENIAL. Nama Diamond Head mungkin tak semendunia band-band sealiran dan seangkatannya, seperti Iron Maiden dan Judas Priest.

Saat trend yang dikenal dalam industri musik sebagai “New Wave of British Heavy Metal” (NWOBH) melanda dunia, album-album Diamond Head secara komersial tak sesukses album band-band NWOBH seperti Def Leppard, Judas Priest, Queen atau Iron Maiden.

Meskipun begitu, pengaruh mereka di dunia musik metal tidak bisa dipandang remeh. Band asal Stourbridge, sebuah kota kecil di Inggris bagian tengah ini, diakui para pengamat musik sebagai band yang memengaruhi musikalitas Metallica.

Bahkan, para pentolan Metallica sendiri mengakui, bahwa musik dan lirik Diamond Head-lah yang menjadi inspirasi dan referensi mereka pada awal karir, sebelum didapuk sebagai band metal yang konon paling sukses di dunia saat ini.

**

Anyway, mungkin ada yang bertanya apa sih NWOBH itu ?

NWOBH adalah sebuah nama yang digunakan untuk mengidentifikasikan fenomena invasi band-band rock Inggris ke daratan Amerika dan Eropa, yang kemudian menjadi trend di industri musik dunia pada akhir 70an hingga pertengahan 80an.

Tahun-tahun itu, band-band rock Inggris angkatan pertama (60-70an), para pionir aliran heavy metal, seperti Black Sabbath, Led Zeppelin dan Deep Purple, mengalami penurunan dalam hal sukses komersial.

Banyak faktor yang diklaim para pengamat musik, bisa dianggap sebagai penyebab penurunan tersebut.

Black Sabbath bermasalah dengan sang vokalis, Ozzy Osbourne, yang terjerembab ke alam gelap narkotika.

Deep Purple ribut antar sesama personil gara-gara masalah royalti lagu “Smoke On The Water”, yang ironisnya justru merupakan lagu yang pernah melejitkan nama mereka sebagai grup rock terkeras nomor satu di dunia.

Dan Led Zeppelin sendiri dilanda duka dan trauma yang mendalam, setelah drummer dan pendiri mereka, John Bonham, mati mendadak karena tersedak saat tidur, setelah sebelumnya berlebihan menenggak alkohol.

Masalah-masalah itu membuat para pionir tersebut tak bisa lagi menciptakan karya besar, sebagaimana masterpiece mereka di album-album sebelumnya. Hal ini tentu saja otomatis membuat pendapatan berkurang dan pamor meredup pada masa-masa itu.

NWOBH kemudian hadir setelah memudarnya para legenda rock tahun 70an. Gaungnyapun ternyata tak kalah dahsyat dengan era pendahulunya.

Dunia barat segera dilanda demam NWOBH ketika lagu-lagu seperti Bohemian Rhapsody (Queen), Breaking The Law (Judas Priest), Number Of The Beast (Iron Maiden) dan Hysteria (Def Leppard) merajai top chart televisi dan radio.

Persis seperti ketika Stairway To Heaven (Led Zeppelin), Smoke On The Water (Deep Purple) atau Iron Man (Black Sabbath) menguasai top chart lagu di barat pada awal 70an.

Sayang, pada masa-masa ini, Diamond Head tak bisa langsung mengecap kesuksesan serupa band-band tersebut. Walaupun mereka sempat dipandang sebagai band potensial ketika membuka konser supergroup yang sedang naik daun, AC/DC dan Iron Maiden di The Lyceum, London.

**

Penyebab kurang menonjolnya Diamond Head tak sepenuhnya disebabkan materi musik, melainkan manajemen mereka yang kurang pengalaman dalam mengelola tour, juga kenekatan merilis album pertama secara indie dengan terburu-buru, yang kemasan maupun distribusinyapun sangat terbatas.

Sebetulnya ada peluang bagi band yang formasi pertamanya beranggotakan Sean Harris (vokal), Brian Tatler (gitar), Colin Kimberley (bass) dan Duncan Scott (drums), ini, untuk meraih deal dengan major label di Amerika untuk album pertama. Agar album mereka bisa diproduksi dengan fisik (baik kaset maupun piringan hitam) lebih banyak, dan agar rangkaian tour mereka lebih luas dan terarah.

Namun persyaratan yang diajukan calon major label itu dianggap terlalu berat secara moral, yaitu mengganti manajer band yang juga merupakan ibunda sang vokalis, Linda Harris.

Linda Harris dipandang akan sulit mengejar cara kerja yang menuntut effort lebih sebagaimana lazimnya label rekaman besar, mengingat pengalaman minimnya yang belum pernah sama sekali memanajeri sebuah band profesional. Begitu argumen major label yang sebenarnya tertarik dengan potensi Diamond Head.

Namun para personil Diamond Head bersikeras menolak persyaratan yang diajukan. Mereka memilih tetap bersama Linda, dan memilih untuk memproduksi albumnya dengan budget dan perangkat terbatas, lewat indie label Happy Face Record, yang letaknya jauh dari denyut jantung industri musik rock di Los Angeles, Amerika Serikat, yaitu di kota tradisional Worchester, Inggris.

Album pertama itu diberi judul “Lightning To The Nations” (1980).

Album itu dipasarkan melalui sistem pre-order, pemesanan via pos, dan dijual bersamaan dengan membuka stand pada venue, ketika kebetulan mereka tampil di venue tersebut.

Dengan cara pemasaran yang tradisional itu, tentu saja, pendapatan mereka jauh dari pendapatan band-band NWOBH lainnya di masa-masa awal keemasannya.

**

Walau hanya dicetak 1000 keping dan laku 250 keping pada awal perilisan, progresifitas materi “Lightning To The Nations” yang direkam dengan fasilitas terbatas ini, tetap saja terendus oleh para idealis musik metal.

Singles It’s Electric dari album debut itu menjadi top request di radio-radio komunitas, diminati beberapa publisher kompilasi, sehingga sampai ke telinga founder Metallica, sang drummer, Lars Ulrich, yang berdomisili di California, Amerika Serikat.

Lars yang saat itu masih remaja, menyimak lagu It’s Electric ini dari album kompilasi “Brute Frote” (1980) yang dirilis oleh MCA, sebuah perusahaan rekaman asal Amerika yang kemudian memproduksi album-album Diamond Head pasca debut album.

Lagu It’s Electric menjadi pembuka kompilasi yang diisi oleh materi beberapa band selain Diamond Head, yang saat itu dianggap punya masa depan cerah seperti Fist, Raven dan Sledgehammer.

Lars remaja yang sedang mencari jati diri dan mencari cetak biru idealisme bermusiknya, kontan ngefans berat dengan Diamond Head usai menyimak album kompilasi itu.

Saat pementasan ke 19 dalam rangkaian tour promo debut album Diamond Head di London (Juli 1981), Lars Ulrich yang ketika itu masih ABG sengaja datang dari California untuk kemudian menjadi tamu keluarga Harris (keluarga sang vokalis) dan menginap selama satu minggu di rumah gitaris Brian Tatler.

“Wow, kita dapet fans pertama dari Amrik nih, Bro, ke depannya bakal banyak lagi fans US kita…”seloroh Tatler saat menerima dan melihat antusiasme Lars muda.

“Gitaris gue sama cepetnya kayak elu, band gue mungkin bakal lebih kenceng sedikit dari Diamond Head.”kata Lars pada Tatler, sembari menerangkan visi musiknya dan menceritakan sosok Dave Mustaine, gitaris Metallica saat itu, yang kemudian menjadi pendiri band metal legendaris lainnya, Megadeth.

Hubungan silaturahmi Lars Ulrich dan Brian Tatler terjalin semakin erat setelah itu. Berjalan terus hingga menjadi kerjasama bisnis, ketika Metallica merilis cover version lagu-lagu Diamond Head yang ditulis Tatler, untuk mini album Metallica :  Garage Days Revisited (1987) dan Metallica double album, Garage Inc (1998).

Album-album bertitel “Garage” itu dirilis Metallica pasca kesuksesan mereka di empat album awal, yaitu Kill ‘Em All, Ride The Lightning, Master Of Puppets, dan And Justice For All. Yang menjulangkan nama mereka sebagai band metal terbesar di tahun 90an.

Album bertitel Garage itu dirilis sebagai ide kreatif untuk menghormati band dan musisi yang dianggap berpengaruh dan berjasa, dalam musikalitas band yang berbasis di Los Angeles, California, itu.

**

Lalu, dimana pengaruh album “Lightning…” ini bisa disimak dalam karya-karya asli Metallica ?

Untuk menyimak pengaruhnya, kita bisa mendengarkan materi-materi dalam album pertama dan kedua Metallica, yaitu Kill ‘Em All dan Ride The Lightning.

Di mana letak pengaruh kuatnya ?

Pengaruh kuat tersebut menyeruak pada sound distorsi dalam rythm section, terutama bagian intro dan lead guitar pada lagu-lagu seperti Seek And Destroy, Hit The Lights, Ride The Lightning dan Creeping Death, yang menjadi best cut dari album awal Metallica tersebut.

Selain menandai lahirnya band yang dijuluki The Biggest Metal Band In The World ini, dua album itu juga menjadi penting karena merupakan tonggak dari kemunculan aliran baru dalam musik metal, yaitu aliran Trash Metal.

Trash Metal ini dalam perjalanannya kemudian tak identik dengan Metallica saja. Ada istilah band Big Four di aliran ini, yang  terdiri dari Metallica sendiri, Megadeth, Anthrax dan Slayer.

Tak hanya Metallica, semua band yang termasuk Big Four ini berhutang budi pada Diamond Head dan “Lightning To The Nations”nya, menurut situs rating musik terkemuka allmusic.com.

**

Jika Big Four dikenal sebagai band Metal besar dengan pencapaian musikalitas dan kesuksesan komersial yang mencengangkan, lantas bagaimana jejak nasib sang big influence, Diamond Head, sendiri, hingga saat ini ?

Setelah merilis tiga album awal yang tak begitu sukses di pasaran (1980-1983), Diamond Head sempat mengalami kevakuman, yang juga mencatat peristiwa pecahnya kongsi pendiri band, Sean Harris dan Brian Tatler (1984).

Tatler menjadi satu-satunya personil pendiri band yang masih mengibarkan nama Diamond Head, yang justru mengalami sukses komersial memasuki medio 2016 sehingga kini.

Dua album Diamond Head yang kini dimotori vokalis muda kharismatik, Rasmus Bom Anderson, masing-masing bertajuk Diamond Head (2016) dan The Coffin Train (2019), menempati ranking 15 dan ranking 5 di tangga lagu rock Inggris.

Namun begitu, pendapatan yang diperoleh dari royalti lagu dalam album “Lightning To The Nations” yang dibawakan ulang oleh Metallica, termasuk diantaranya yang dibawakan dalam live concert, tetaplah sumber income terbesar bagi Tatler.

“Royalti dari situ pendapatan terbesarku. Itu hebat, dan aku tak tahu harus hidup seperti apa, seandainya aku tak pernah mendapatkan penghasilan dari lagu-lagu tersebut. Pendapatan dari situ membuatku merdeka secara finansial. Ini sangat luar biasa”ujar Tatler penuh syukur dalam suatu wawancara dengan situs musik keras terkemuka, Blabbermouth.

Ibaratnya, sekalipun Tatler hanya tidur atau bersantai di rumah, sementara pada saat yang bersamaan Metallica memainkan satu saja lagu karyanya dengan bermandi keringat di atas pentas, uang tetap mengalir deras ke rekeningnya saat ini.

Inilah barangkali yang dinamakan berkah, dari karya yang menginspirasi, tak tanggung-tanggung, menginspirasi band metal terbesar di planet ini, Metallica. Sebuah band yang telah menjual 121 juta copy album, dan diperkirakan memiliki penghasilan setara 900 Juta Dollar Amerika, versi majalah Forbes pada tahun 2019. [***]

A Eddy Adriansyah

Blogger musik dari Rockabilia Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *