Menanti Akhir Kisah The Dynamite, Denmark

GENIAL. Sosok tim nasional Denmark dihadapan tim nasional lain atau pecandu sepakbola dunia bagaikan slogan iklan salah satu produsen rokok nasional yang populer, “…nggak ada loe, nggak rame.”

Reputasi itu dibangun sejak tahun 1980an, ketika Denmark dihuni pemain-pemain berkelas yang bertebaran di klub-klub besar Eropa yang kala itu sangat diperhitungkan dalam kompetisi antar klub, Champions Cup, seperti Soren Lerby (Bayern Muenchen), Michael Laudrup (FC Barcelona), Jan Molby (Ajax Amsterdam), Morten Olsen (Anderlecht), atau Frank Arnesen (PSV Eindhoeven).

Pada perhelatan UEFA EURO 1984 dan World Cup 1986, penampilan mereka sangat dinantikan tak hanya oleh fans timnasnya sendiri, melainkan oleh publik sepakbola dunia. Sepakbola menyerang yang mereka tampilkan, gol-gol dalam jumlah fantastis per pertandingan yang mereka lesakkan, membuat dunia menjuluki timnas Denmark sebagai The Dynamite.

Walau reputasi Denmark sebagai tim dinamit kian memudar kini, namun fans bola tetap saja antusias meluangkan waktu untuk menyimak penampilan juara UEFA EURO 1992 ini. Dengan harapan, mungkin saja ada bintang baru lahir dari rahim timnasnya, sebagaimana mereka menyaksikan kemunculan Preben Elkjaer Larssen pada medio 80-an, Laudrup bersaudara, dan kemunculan kiper tangguh, salah seorang diantara kiper terbaik dalam sejarah sepakbola, Peter Schmeichel.

Harapan fans itu salah satunya berada di pundak Christian Erikssen, inspirator dari lapangan tengah Denmark pada perhelatan UEFA EURO kali ini. Lewat pengalaman bermain Erikssen di klub-klub besar ber-DNA juara seperti Ajax Amsterdam, Tottenham Hotspurs dan Inter Milan, dengan bahu membahu bersama Kasper Schmeichel dan Simon Kjaer, fans bola mengharapkan Denmark dapat berbicara lebih dalam turnamen.

Pada akhirnya Erikssen dan timnas Denmark memang ‘berbicara lebih’ dalam gelaran UEFA EURO ini. Namun tak seperti yang diharapkan dan dikhayalkan oleh fans maupun timnas Denmark sendiri, mereka menjadi buah bibir sebab gangguan kesehatan yang diduga dipicu serangan jantung, yang menimpa Erikssen pada laga pembuka grup B versus Finlandia.

Media kenamaan Inggris, BBC, menyebut kejadian tersebut tak hanya membawa trauma bagi timnas Denmark. Seluruh tim peserta turnamen ikut merasakan trauma sekaligus empati atas penderitaan Erikssen dan timnasnya.

Pelatih timnas Belanda, Frank De Boer, dan pemainnya, Daley Blind, yang pernah bersama Eriksson menopang klub Ajax Amsterdam, adalah mereka yang sempat terpengaruh secara emosional atas peristiwa tersebut.

Frank De Boer sempat membutuhkan waktu untuk menyendiri, tanpa membicarakan sepakbola, padahal ia tengah dibutuhkan timnya yang akan menghadapi Ukraina pada partai pembuka grup C.

Daley Blind, sahabat Erikssen sejak remaja, terpaksa tampil dengan gap mental yang besar pada partai pembuka tim oranje, hingga kemudian ia ditarik pada pertengahan pertandingan dengan berurai air mata.

Blind mengalami gap mental yang besar, sebab selain empati terhadap kondisi Erikssen sebagai sahabat, ia juga mempunyai trauma yang sama dengan gangguan jantung, yang sempat nyaris merenggut karirnya lebih dini pada beberapa tahun lampau.

Denmark sendiri tampaknya masih dibayangi trauma tersebut, walau Erikssen berhasil ditangani oleh tim medis di lapangan maupun tim dokter di rumah sakit tempat ia dirawat.

Setelah tumbang dalam lanjutan partai yang terkesan dipaksakan UEFA versus Finland, dan juga tersungkur di tangan tim favorit Belgia pada pertandingan ke 2, Denmark sepertinya tinggal hanya menunggu waktu untuk tersingkir dari turnamen.

Tapi dalam sepakbola, segala sesuatu masih mungkin terjadi. Apalagi, Denmark belum benar-benar tersisih dari turnamen, bila melihat klasemen grup B saat ini.

Denmark masih bisa lolos, jika mereka bisa menaklukkan Russia, meski hanya dengan satu gol saja. Dengan catatan, Belgia juga berhasil menumbangkan Finlandia di pertandingan terakhir grup B.

Penampilan Denmark saat menghadapi Belgia yang kuat di setiap lini, sebetulnya menunjukkan bahwa mereka punya potensi yang perlu diwaspadai Russia.

Secara statistik, walau kalah dari Belgia, tapi Denmark memiliki catatan tendangan ke arah gawang yang sama dengan rivalnya tersebut. Begitu juga dengan akurasi umpan. Belgia dan Denmark sama-sama mencatatkan rekor 84 persen akurasi umpan, mengacu pada statistik versi aplikasi Google Sport.

Partai Denmark versus Russia, berdasarkan data dan fakta di atas, tampaknya masih sangat menarik untuk disimak. Terutama bagi mereka yang percaya keajaiban dalam sepakbola itu ada, kejutan selalu mungkin terjadi, sebagaimana Denmark pernah mewujudkannya dalam UEFA EURO 1992.

Ketika itu, Peter Schmeichel dan kawan-kawan menjuarai turnamen dengan membabat Belanda yang diperkuat Marco Van Basten di semifinal, dan meluluhlantakkan Der Panzer, Jerman, yang dikomandani, Lothar Matthaeus, di final. Striker Denmark, Henrik Larssen, menjadi top scorer turnamen kala itu.

Kemenangan Denmark pada UEFA EURO 1992 itu, hingga saat ini dikenang sebagai salah satu keajaiban dalam sejarah sepakbola. Datang sebagai pengganti timnas Yugoslavia, yang diboikot tampil gegara konflik kawasan Balkan, tanpa taburan pemain bintang pula, Denmark justru sukses mengunci gelar Eropa pertamanya.

Apakah keajaiban yang sama akan kembali menaungi The Dynamite, Denmark, pada helatan turnamen yang digelar dalam era pandemik global sedang melanda sebagian besar dunia, ditambah krisis mental yang masih belum 100 persen pulih dari skuad mereka ?

Pertanyaan inilah yang memikat pecandu bola, untuk tetap setia menunggu peluit kick off pertandingan akhir grup B UEFA EURO 2020 ditiup sang referee.[***]

Oleh: A Eddy Adriansyah
Kontributor Genial dari Eropa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *