Jembatan Teluk Kendari, Ikon Baru Kota Kendari

GENIAL. Beberapa orang berkerumun sambil memakan dan meminum jajanan yang dijual oleh para pedagang asongan. Sebagian mereka duduk di trotoar dan sebagian remaja putra dan putri tampak asyik berphoto ria. Kendaraan yang hilir mudik dari dua arah yang berlawanan sesekali membunyikan klakson mengingatkan kerumunan yang melampaui marka jalan. Sementara itu, beberapa unit kendaraan terhenti di pinggir jalan karena pemiliknya turut menikmati suasana senja sambil menyaksikan matahari yang mulai menyembunyikan diri.

Suasana itu disaksikan di Jembatan Teluk Kendari, suatu sore, ketika suhu udara yang makin sejuk disertai kelap kelip lampu di seputaran teluk. Jembatan yang kini menjadi ikon baru Kota Kendari ini tak hanya untuk hilir mudik kendaraan bermotor, tetapi juga sebagai “destinasi wisata” ketika warga sekitar atau pengunjung dari luar kota membutuhkan ruang publik, melepas penat. Meskipun agak semrawut, terutama karena sampah plastik bekas bungkus makanan tercecer di pelataran jembatan, tetapi warga sangat menikmatinya dan para pedagang mendapat berkah dagangannya terjual.            

Teluk Kendari merupakan salah satu sudut keramaian di Kota Kendari. Tak hanya tempat bersandarnya kapal-kapal, tetapi juga pusat kuliner yang dapat ditemui di sepanjang pantai. Kehadiran Jembatan Teluk Kendari membuat suasana di teluk tersebut tampak semakin ramai. Selain jembatan, pusat keramaian lainnya adalah Masjid Al-Alam yang berada di tengah teluk. Masjid yang luasnya hampir sama dengan Masjid Kubah Mas di Depok ini didesain sangat megah dengan lahan parkir yang dapat menampung puluhan kendaraan.

Jembatan Teluk Kendari dan Masjid Al-Alam yang dibangun semasa kepemimpinan Gubernur Nur Alam menjadi dua ikon Kota Kendari bahkan Sulawesi Tenggara dan representasi infrastruktur spiritual dan non-spiritual. Keduanya menarik minat warga untuk berkunjung, baik sekadar jalan-jalan sore maupun beribadah. Meskipun Masjid Al-Alam terbilang jauh dari pemukiman warga, tetapi puluhan warga berkumpul sholat berjamaah dengan puluhan kendaraan berderet di lapangan parkir tengah teluk.      

Dibanding Masjid Al-Alam, Jembatan Teluk Kendari relatif baru, mulai dibangun tahun tahun 2015 dan diresmikan tahun 2020. Jembatan ini menjadi salah satu wujud kemajuan pembangunan infrastruktur transportasi di Kota Kendari. Jembatan Teluk Kendari tak hanya mempermudah mobilitas penduduk di kawasan Kota Lama yang sebelumnya dipisahkan oleh teluk, tetapi juga mendukung pengembangan kawasan industri dan pelabuhan baru. Jembatan sepanjang 1,34 kilometer ini menghabiskan anggaran sebesar Rp. 804 miliar. 

Selain bentang utama (main span) sepanjang 180 meter, Jembatan Teluk Kendari terdiri dari bangunan jalan pendekat (oprit) 602 meter, bentang pendekat (approach span) 357,7 meter, dan bentang samping (side span) 180 meter. Teknologi yang digunakan pada pembangunan jembatan adalah cable stayed yang diimpor dari Austria. Kegiatan konstruksinya dikerjakan oleh konsorsium kontraktor BUMN PT Pembangunan Perumahan dan PT Nindya Karya.

Jembatan Teluk Kendari sangat berarti bagi masyarakat Kota Kendari. Sebelum ada jembatan, mobilitas penduduk di kawasan teluk harus menyeberangi menggunakan perahu atau memutari teluk sejauh 20 kilometer dengan waktu tempuh 30-35 menit. Namun, setelah ada jembatan, waktu tempuh menjadi sangat cepat, sekitar lima menit. Kemudahan akses ini membuat mobilitas barang, jasa, dan orang menjadi lebih efisien dan daya saing diproyeksikan semakin meningkat. 

Jembatan Teluk Kendari yang didesain dengan arsitektur yang khas, menjadi landmark yang membuat Kota Kendari semakin dikenal dan menarik untuk pengembangan usaha baru. Dalam kaitannya dengan perekonomian, jembatan ini mendukung pengembangan Kawasan Industri Konawe dan Kendari New Port. Jembatan ini juga diproyeksikan akan terintegrasi dengan kawasan pertanian, perkebunan, industri yang akan menciptakan lapangan pekerjaan baru.

Kawasan Industri Konawe ditetapkan sebagai proyek strategis nasional berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 109 tahun 2020. Kawasan ini diproyeksikan akan mendongkrak perekonomian Sulawesi Tenggara. PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) yang masuk dalam Objek Vital Nasional subbidang mineral dan batubara di Konawe yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Nomor 77K/90/MEM/2019 akan menjadi salah satu penggerak utama wilayah pusat-pusat pertumbuhan industri di Sulawesi Tenggara.

Berdasarkan catatan Kementerian Perindustrian, investasi di kawasan PT VDNI sebesar Rp. 47 triliun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 16.515 orang menjadi indikator ketercapaian target awal suatu kawasan industri. Sektor industri memiliki kontribusi yang cukup berarti bagi perekonomian Sulawesi Tenggara. Selama lima tahun terakhir, kontribusi sektor industri terhadap PDRB mengalami peningkatan sebesar 0,93 persen, sedangkan di Konawe sendiri sangat signifikan, sebesar 18,25 persen. Dengan catatan tersebut, kontribusi produksi nikel PT VDNI diperkirakan akan meningkat sebesar 4 persen dalam beberapa tahun ke depan. 

Kawasan Industri Konawe yang didesain sebagai kawasan berbasis smelter feronikel akan membuat industri pengolahan dan pemurnian berbasis nikel semakin menggeliat di Indonesia. Hal ini sejalan dengan program peningkatan nilai tambah sumber daya alam sehingga berperan penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Keberadaan VDNI diharapkan mampu menjadi pusat industri berbasis stainless steel berkelas dunia. 

Meskipun pengembangan Kawasan Industri Konawe diperkirakan akan mendongkrak geliat ekonomi di Sulawesi Tenggara, namun saat ini masih terdapat kendala yang dihadapi, diantaranya peningkatan akses jalan menuju kawasan industri dan percepatan perizinan untuk air baku. Padahal, pengembangan jalan akses menuju kawasan menjadi sangat penting untuk mempercepat mobilitas barang dan jasa, baik dari maupun menuju Kawasan Industri, selain berperan dalam penurunan biaya logistik. 

Sedangkan Kendari New Port yang selesai dibangun tahun 2019 dengan fasilitas utama dermaga dan lapangan penumpukan atau terminal barang akan mendukung rencana sistem pengapalan langsung ke luar negeri melalui pelabuhan di Kendari. Kendari New Port yang terus dikembangkan menjadi pelabuhan bertaraf internasional akan mengakomodasi hasil perkebunan seperti kakao, mete, kelapa, kopi, cengkeh, dan lada, untuk didistribusikan ke seluruh Indonesia. Kendari New Port juga akan melayani bongkar muat aspal dari Buton, nikel dari Kolaka Utara dan Konawe, emas dari Bombana, dan minyak di Buton Utara untuk diekspor ke luar negeri.

Kendari New Port yang terletak di pinggir laut Bungkutoko berada dalam wilayah operasi PT Pelindo IV.  Sebagai pelabuhan modern, Kendari New Port tampak megah yang dilengkapi dengan alat-alat raksasa penyusun peti kemas. Namun demikian, kemegahan pelabuhan tersebut belum tertunjang dengan jalan masuk ke terminal yang masih rusak. Terdapat jalan yang bergelombang dan becek di beberapa titik yang perlu segera dibenahi.

Dalam konektivitas nasional, Jembatan Teluk Kendari dan Kendari New Port serta Kawasan Industri Konawe merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Satu sisi, Jembatan Teluk Kendari meningkatkan aksesibilitas kendaraan menuju Kendari New Port dan Kawasan Industri Konawe, namun di sisi lain, dua infrastruktur transportasi itu juga, baik Jembatan maupun Pelabuhan merupakan penunjang utama lalu lintas barang dan jasa dari dan menuju Kawasan Industri yang berperan dalam meningkatkan minat investasi di kawasan tersebut.

Sebagai ikon baru Kota Kendari, Jembatan Teluk Kendari sangat strategis dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi, baik sebagai penghubung kawasan teluk, menuju Kendari New Port maupun Kawasan Industri Konawe. Jembatan Teluk Kendari juga menambah deretan jembatan model cable stayed yang beroperasi dalam kurun 10 tahun terakhir. Jembatan dengan model yang sama antara lain Jembaran Suramadu (Surabaya-Madura), Jembatan Pulau Balang (Balikpapan), Jembatan Soekarno (Manado), dan Jembatan Merah Putih (Ambon). [***]

Ian Suherlan

Penikmat dan Pengamat Infrastruktur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *