Eulogi Untuk Kawanku, Alm. Kang Iqbal Hasanuddin

GENIAL. Di forum diskusi resmi, saya ikut menyapanya sebagai Kang Iqbal. Bagi saya panggilan ini memuat rasa asosiasi yang sadar atau tidak sadar saya tautkan dengan makna dalam sapaan Kang kepada Alm. Kang KH Jalaluddin Rakhmat, dan sebagainya. Di kesempatan resmi lainnya, saya menyapanya sebagai Mas Iqbal karena kami sama-sama dekat dan mengalami secara langsung keteladanan hidup Alm. Mas Dawam Rahardjo, mentor yang berperan laksana ayah kami sendiri. Maka sapaan Kang dan Mas itu saya maknai dengan penuh harapan dalam lubuk hati layaknya panggilan akrab penuh kagum berlambar kasih seperti panggilan Gus dan Cak kepada Alm. Gus Dur dan Alm. Cak Nur lantaran bagi saya Kang Iqbal/Mas Iqbal mewarisi keistimewaan yang ia bangun sendiri dengan tekun untuk melanjutkan legacy orang-orang besar penuh kearifan yang menjadi idola dan panutan lintas sekat yang telah berpulang terlebih dahulu memasuki Rahmatullah sepenuh-penuhnya.

Dalam percakapan personal, kami saling menyapa sebagai kawan ataupun brother secara bergantian.

Happy were the times I spent with him. Kebersamaan kami indah, penuh makna dan menagih. Dalam dirinya ada roh yang hangat, ceria, dan terbuka, demikian kesan pertama saat kami bertemu. Kesan itu berkelanjutan dan abadi karena keaslian dan integritasnya. Pemikirannya adalah dirinya: terbuka, luas, luwes, inklusif, kreatif dan inovatif. Pribadi yang otentik.

Saya kenal Kang Iqbal dari jaringan STF Driyarkara, dan bertemu langsung dalam obrolan hangat, kongkow-kongkow rutin akhir pekan di rumah Pak Petrus Bello, om dan boss saya saat bekerja di kantor konsultan hukum Bello & Partners. Kami berjumpa dan berdiskusi tentang filsafat hukum mulai dari pemikiran Thomas Aquinas hingga Jeremy Bentham, John Austin, Hans Kelsen, H.L.A. Hart, Devlin, Lon Luvois Fuller, hingga Ronald Dworkin.

Dari situ saya makin karib dengan pribadi yang asyik ini. Pikirannya bestari, bernas, renyah, jernih, mudah dipahami dan dicerna, mudah diingat dan dikembangkan sehingga sangat pantas dianggap sebagai guru. Ia adalah seorang penutur yang selalu sanggup membahasakan gagasannya -seperti cita-cita yang didambakan dalam tempaan bangku kuliah filsafat- secara jelas dan terpilah-pilah (clara et distincta). Bahasa tubuhnya hangat, fleksibel dan sangat connecting dan engaging. Itulah karisma-karisma yang sangat saya kagumi dalam dirinya.

Dia pembaca yang sanggup menangkap maksud pengarang dengan lekas, lincah, gesit dan insightful. Ia dengan mudah mencerna pemikiran besar dan rumit dan sanggup membahasakannya secara sederhana. Hal ini membuat dirinya sanggup menguasai banyak tema pemikiran dengan cepat serta sangat produktif dalam menuangkan pemikiran-pemikirannya dalam berbagai media setelah mencernanya dengan baik.

Tapi Kang Iqbal tidak hanya menjadi pemikir konseptual. Ia pun seorang ‘pembangun’, seorang aktivis pergerakan. Dia pandai membangun network dan menjaring orang dari pelbagai kalangan, suka memberikan kesempatan dan panggung bagi siapapun untuk berbagi dan saling memperkaya. Segera setelah perjumpaan kami di rumah Pak Petrus Bello, ia langsung mengajak saya untuk terlibat dan berbagi dalam Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF), sebuah lembaga yang telah menampung passion-nya dengan sangat tepat pada kajian-kajian lintas agama dan filsafat. Lembaga ini dirintis dan dikembangkan oleh Mas Alm. Prof. Dawam Rahardjo, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, dan Mas Dr. Budhy Munawar Rachman untuk menjadi pusat penelitian, pemikiran, dan pemberdayaan yang progresif di Indonesia. Kang Iqbal menjabat sebagai Direktur Eksekutif LSAF ditemani beberapa rekan muda lainnya, para pengkaji, pemikir, penulis dan aktivis yang sama-sama sangat menjanjikan: Mas Nanang Sunandar, Mas Yuseph, Mas Acun (Sa’duddin Sabilurrasad), dan Mas Sukron Hadi selain beberapa anak muda yang sudah terjaring dan ditempa, dibina dan diarahkan dengan seksama. Lembaga ini, menurut hemat saya, dengan tradisi dan habituasi berpikir progresif, berdiskusi, menulis, mengambil sikap dan ber-aksi secara rutin semakin membentuk dan mematangkan dirinya.

Keterlibatan saya dalam kegiatan-kegiatan LSAF semakin dalam ketika Kang Iqbal mempromosikan dan menggaet saya untuk terlibat dalam pengembangan program yang sudah lama ia dan teman-temannya galakkan yaitu Living Values Education (LVE), suatu program dan upaya nyata mengintegrasikan nilai-nilai dan keutamaan kehidupan ke dalam pendidikan, ke dalam mata pelajaran dan bentuk pelajaran apapun dalam hidup ini.

Bersamanya, kami berkegiatan LVE mulai di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta di Ciputat dengan rekan-rekan lintas agama, hingga ke Ambon untuk memajukan perdamaian usai pertikaian/kerusuhan Ambon, dan pendalaman dan pengembangan LVE di Bali yang juga menghadirkan rekan-rekan Yahudi di Indonesia selain rekan-rekan jaringan LSAF lainnya dan dalam berbagai workshops di komunitas-komunitas binaannya.

Salah satu hal yang membuat saya tertarik dengannya adalah DEDIKASI & KOMITMEN SERTA SOLIDARITAS SERTA ADVOKASINYA BERSAMA REKAN-REKAN KEPADA ORANG-ORANG KECIL DAN TERTINDAS. Ia suka menjangkau kelompok-kelompok yang diperlakukan secara tidak adil seperti komunitas Ahmadiyah, komunitas agama-agama lokal, saudara-saudara LGBTQ, dan sebagainya. Dia adalah pembela Hak-Hak Asasi Manusia. Pembela Kebebasan Beragama (Religious Freedom).

Salah satu tulisan kami berdua yang berjudul ‘Indigenous Religions and the Impacts of Biased Politics of Citizenship in Indonesia’ yang dimuat oleh SCITEPRESS (https://www.scitepress.org/PersonProfile.aspx?PersonAccountID=Y2+Xq2ScbaI=&t=1) menjadi kenangan istimewa hasil obrolan penuh hikmat dan pengalaman kami tentang rasa solidaritas dan kepedulian atas hidup sulit para penganut indigenous religions di tanah airnya sendiri, di Indonesia.

Tidak hanya berhenti pada tataran diskusi filosofis, teologis yang abstrak dan konseptual, ia, seorang direktur eksekutif. Ia pandai dan konsisten menghubungkan orang-orang dari pelbagai kalangan, meng-organize orang-orang dan kegiatan-kegiatan diskursus ilmiah serta event-event sosial kemanusiaan. Ia tidak hanya pandai berfilsafat. Ia juga seorang pribadi yang pandai membangun sinergi dan memperluas jaringan, mengkader generasi muda yang berpikiran terbuka, plural, inklusif dan progresif, yang peduli kepada yang membutuhkan, teristimewa untuk mengadvokasi orang-orang tertindas dan alam yang terluka.

Jaringan Mahasiswa-Mahasiswi Lintas Iman (Jari Lima) adalah nama jaringan kader yang dipupuk dan dirawatnya bersama LSAF melalui pelbagai training, workshop, dan exposures yang makin meluas ke daerah-daerah. Ia pun sangat aktif membangun kelompok-kelompok diskusi. Hal yang sudah ia geluti sejak masa-masa kuliahnya. Forum diskusi ataupun obrolan adalah habitatnya. Demikian pun penelitian ilmiah dan kegiatan akademis belajar mengajar, serta kegiatan kemanusian dan kaderisasi generasi muda serta perjumpaan lintas agama dan pembelaan HAM. Pencampuran ini adalah zona hidup yang ia gumuli dengan sepenuh hati hingga tak terpisahkan dengan dirinya. Di sana ia dengan ringan menggarami dan mencerahkan. Kadang seolah ia tidak kelihatan. Sampai-sampai saya sulit menemukan foto dokumentasi kami berdua di tengah hiruk pikuknya kegiatan. Namun ia selalu berdampak. Karena ia tidak hanya pandai berbicara dan memonopoli ‘the spot light’. Ia tahu kapan berhenti berbicara dan mendengar dan kapan menghidupkan lagi percakapan yang berkelanjutan. Ia teman diskusi yang luar biasa. Pendengar yang sangat baik. Ia selalu memberi kesempatan kepada partner(s) bicaranya untuk merasa ‘at home’, merasa asyik masyuk berbagi dan bersuara (hingga kadang kami lupa waktu!). Ia mendengar tanpa menghakimi. Mengarahkan pada pemikiran yang lebih dalam lagi. Dan membuka jalan bagi penggalian yang lebih jauh untuk berjumpa, dan berdiskusi atau ngobrol lagi. Suasana ngobrol dan berdiskusi baik formal maupun informal dengannya selalu menagih. Kesediaannya mendengar dan mempertajam pemikirian sangat menawan.

Tahun 2015, saya menjadi Student Organization Adviser (SOA) untuk semua organisasi kemahasiswaan kerohanian di BINUS University. Ia selaku Direktur Eksekutif LSAF, hendak mengadakan camping+workshop+exposure lintas iman yang biasanya diselenggarakan LSAF kepada para mahasiswa terpilih dan potensial. Ia mengundang Romo Franz Magnis Suseno (maha guru kami di STF Driyarkara) dan beberapa pembicara besar lainnya, dan juga menyodorkan undangan dan kesempatan kepada saya untuk menjadi salah satu pembicaranya. Begitulah cara ia memberi kesempatan kepada rekan-rekannya yang saya anggap sebagai ekspresi visinya tentang perlunya pelibatan sebanyak mungkin orang pada jaringan pemberdayaan yang ia kelola dan misinya melakukan regenerasi dan kaderisasi yang meluas dan berkesinambungan.

Tidak hanya mengajak dan memberikan kesempatan kepada saya menjadi pembicara, ia juga memberi kesempatan istimewa dan mengundang secara khusus para ketua dan pengurus organisasi kemahasiswaan kami di BINUS untuk berpartisipasi dalam camping+workshop+exposure generasi muda lintas iman itu.

Alhasil, beberapa anak binaan kami yakni Tan William Ketua Keluarga Mahasiswa Buddhis Dhammavaddhana (KMBD) BINUS, Gde Karmeita Kusuma Atmaja Ketua Keluarga Mahasiswa Hindu (KMH) BINUS, I Gde Made Muditayasa Koordinator Kerohanian Keluarga Mahasiswa Hindu (KMH) BINUS, dan Aldy Destian Satya Ketua Keluarga Besar Mahasiswa Kong Hu Cu (KBMK) BINUS berkesempatan untuk mengikuti rangkaian beberapa hari kegiatan tersebut yang meninggalkan kesan dan pembelajaran tak terlupakan bagi hidup mereka hingga kini.

Sukacita saya makin lengkap ketika suatu hari kalau tidak salah di tahun 2016 dia mengutarakan itikad untuk menjadi dosen. Saya menyarankannya bergabung dengan kami di BINUS University, lembaga pendidikan yang punya reputasi baik dan menjanjikan, yang terus berekspansi dan terus maju, di mana ruang pendidikan nilai dan pengembangan karakter serta diskursus lintas iman begitu terbuka lebar dan dikelola secara serius karena saya yakin ia akan sanggup menggarami generasi muda yang lebih banyak dan lintas agama.

Ia akhirnya bergabung bersama kami di Character Building Development Center (CBDC) dan makin mewarnai kegiatan belajar mengajar kami di BINUS University. Ia diterima oleh Bpk. Antonius Atosokhi Gea yang kala itu hendak mengakhiri masa kepemimpinannya sebagai CBDC Manager digantikan oleh Bpk. Frederikus Fios. Pemahamannya yang dalam dan kaya tentang wacana-wacana Pancasila dan jaringannya yang luas terkait arah pengembangan Character Building Pancasila mendorong Bpk. Frederikus Fios (CBDC Manager) untuk langsung menempatkannya sebagai Subject Content Specialist mata kuliah CB: Pancasila di mana kiprahnya telah menyumbang bagi pengayaan bahan kuliah dan pengembangan program CBDC.

Bpk. Antonius Atosokhi Gea dalam pesan WA-nya kepada kami menyatakan apresiasinya kepada Kang Iqbal, “…Beliau sebenarnya diharapkan akan semakin berperan penting di CBDC ke depan. Beliau masih muda dan sangat energik, berwawasan luas, berpemikiran terbuka dan kritis serta progresif dan selalu siap membantu dengan kemampuan dan keterampilan yang sungguh bisa diandalkan.”

Belakangan ini, bersama Mas Budhy Munawar Rachman, dia berhasil membuat hidup diskusi rutin LSAF secara online, mengkaji pemikiran-pemikiran dan isu-isu kontemporer tentang agama dan filsafat secara lintas iman, lintas agama, lintas generasi, lintas kelompok dan pendirian. Di samping itu, di sela-sela kuliah Program Doktoral-nya di STF Driyarkara, ia pun merintis dan mengembangkan forum diskusi filsafat politik mingguan lainnya bernama Forum Diskusi Genial dan menjadi pemantik utama dan rutin diskusi filsafat setiap minggu itu.

Saya sempat mengikutinya secara rutin dan merasa seolah-olah sumur pemahaman filsafat tidak pernah mengering mencakup para pemikir filsafat barat dan timur, dari klasik hingga kontemporer.

Pada pekan kemarin, di Kamis Malam/Malam Jumat seperti biasa, ia masih menjadi narasumber dan pemantik diskusi itu. Forum tersebut adalah forum diskusi ke-50 dari Forum Diskusi Genial. Angka yang setengah untuk mencapai 100. Ia membahas pemikiran Hannah Arendt. Suaranya jelas dan jernih sebagaimana pemikirannya. Tak ada yang berpikir bahwa ia akan pergi begitu cepat.

Ketika ia dirawat di rumah sakit, setiap hari saya memantau kondisinya melalui istrinya terkasih, Ibu Rizqi Handayani. Kemarin, saya masih mendapat update yang membuat saya makin optimis bahwa Kang Iqbal sudah mulai merespon walau belum bisa berbicara karena masih dipasang ventilator. Tak disangka dini harinya sekitar waktu suci di kala saudara-saudari Muslim masuk ke hadirat Ilahi Yang Maha Kudus dalam Sholat Subuh, saya mendapatkan telpon yang tak terjawab dan WA dari istrinya yang saya baca saat bangun dari tidur: berita duka tentang kepergiannya. Ingatan saya tentangnya masih segar dan masih muda. Seolah-olah ada gema di balik peyampaiannya yang mendengung kepada semua orang yang mengenalnya, “Saya telah menjalankannya separuh jalan dan kini giliran Anda. Ayo, selamat melanjutkan!”

Kami telah banyak bercerita bahkan kadang sambil ngakak terbahak-bahak tentang banyak hal dan permenungan, baik di forum di aula dan resto hotel mewah, maupun di penginapan murahan, di ruang dosen, di tepian pantai Natsepa Ambon, di atas motor maupun mobil, di emperan kampus, di kedai warung makan sederhana, maupun via WA dan meeting online. Kami sama-sama share dan mengamini banyak insights dan keyakinan lintas iman. Salah satunya tentang Roh Ilahi Semesta: Roh yang Agung, dari mana kita berbagi jiwa dalam diri masing-masing individu setiap makhluk; dalam kepelbagaian ini kita semua terkait kelindan dalam jalinan silahturahmi Roh Maha Luas yang menghubungkan semua entitas di alam semesta ini yakni kesalingterhubungan kita satu sama lain (interconnectedness; Yes, we are indeed interconnected! Itu kami affirm dengan senyum yang semringah dan segar) dalam balutan bentangan Rahim Ilahi, pemberi dan pemilik kehidupan dan kematian, kita semua berhubungan, terkoneksi dengan indahnya dan di sanalah, dalam Rahman itu, sesungguhnya semua bersatu menyatu dalam keabadian. Kematian tidak mengakhiri kehidupan. Ia hanya mentransformasikannya menjadi Cahaya, menjadi Roh atau entah dengan apapun Ia disebut, agar dengan begitu kita kembali ke Asal dan Tujuan-nya itu. Tubuh akan terurai menjadi tanah (the star dust!) untuk kembali menjadi humus yang menyuburkan dan menghidupkan (‘adamah’) yang menyatu bersama semua yang lain yang telah berpulang mendahului, dan semua yang akan berpulang nantinya, bersama semua kita pada saatnya. Demikian pun jiwa kita ini, setiap kita menyatu bersama Roh Ilahi yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Selamat berpulang mendahului kami, my dear brother. Biarlah jiwa muliamu terangkai erat dengan Jiwa Mulia yang kita obrolin dengan wajah ceria itu.

Pada podium-podium yang engkau persilakan kepada saya untuk menjelaskan tentang welas asih, saya biasanya mengakhirinya dengan mengaitkannya kepada pengertian etimologis Bahasa Ibrani dan Arab serta pengertian eskatologi teologis Semitik akan kata yang sangat sentral dalam teologi dan iman Islam dan lintas agama: yakni gelar almarhum, almarhumah yang akan kita sandang bersama-sama yaitu sebagai dia yang telah mendapatkan belas kasih Ilahi yang paripurna; sebagai dia yang telah kembali ke Rahim Ilahi.

Blessed are you yang telah merengkuh kepenuhan welas kasih Ilahi itu, Kawan.

Beristirahatlah menunggu kami di sana, Kawan, di TEMPAT segala jiwa beriman berharap hendak kembali.

Di TEMPAT yang disebut oleh para sufi sebagai taman indah tempat setiap pencinta (the lover) hendak berjumpa dengan KEKASIH-nya (THE BELOVED).
Di TEMPAT segala tubuh yang rapuh dan lelah ini ingin beristirahat.
Di TEMPAT-DIA-Yang Ingin-Me-Rahimi-mu kembali.

Till we meet again, Bro![***]

Oleh Petrus Lakonawa
BINUS University

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *