Dialog Budaya Indonesia – Iran

GENIAL. Pada tahun 2014, penulis dalam satu delegasi diundang ke Iran menghadiri Konferensi Internasioanl tentang Perdamaian dan Takfiri, di kota Suci Qom Iran.  Juga sempat berkunjung ke Universitas Internasional Al-Mushtafa, dan berdialog dengan pimpinannya.  Pada satu sesi Konferensi tersebut, penulis mengemukakan bahwa Indonesia dengan beragam agama dan etnisnya dapat hidup damai dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika berdasarkan ideologi Negara Pancasila.

Pengalaman singkat selama empat hari di Republik Islam Iran, sebagai Negara berpenduduk mayoritas Muslim Syiah, menambah pemahaman tentang budaya Iran dan madzhab Syiah yang moderat. Banyak pemahaman tentang Syiah yang beredar sebelumnya ternyata berbeda bahkan bertolak belakang dengan fakta yang disaksikan dan didengar langsung dari referensi asli tentang Syiah itu sendiri.

Jika selama ini beredar pemahaman bahwa kitab suci Syi’ah berbeda dengan kitab suci Al-Quran kaum Sunni, ternyata itu tidak benar atau hoaks menurut istilah sekarang.   Konkretnya, kitab suci Al-Qur’an, hadiah dari Universitas Al-Mushtofa, dan mushhaf Al-Qur’an yang sudah kami beli sebelumnya di Qom, semuanya tidak berbeda dengan mushhaf yang kita miliki di Indonesia.

Juga mengenai status Khalifah Abu Bakr RA, Umar RA dan Utsman RA, ternyata mereka tetap hormati sebagai Khalifah, walaupun tetap meyakini Khalifah Ali RA sebagai yang paling mulia dari yang lainnya.  Dengan alasan itu, mereka menerima mushhaf Al-Quran Utsmani sebagai hasil jerih payah tiga khalifah tersebut sebelum Khalifah Ali RA.  Tanpa dipungkiri bahwa memang terdapat aliran Syiah Ghulat, Syiah yang kebablasan, yang secara ekstrim menolak tiga khalifah sebelum Sayidina Ali RA itu.

Begitupun tata cara sholatnya juga persis sama dengan kita;  kalau ada yang berbeda mungkin hanya soal “turbah”, yakni lempengan tipis tanah liat yang diletakkan sebagai sandaran dahi saat bersujud.  Lempengan tanah liat ini sudah menjadi karya seni yang dijual di setiap tokoh perlengkapan sholat setempat.  Tetapi yang sangat filosofis kami temukan saat bersholat Jumat di Masjid A’zam Qom itu, yaitu tempat Imam sengaja dibuat lebih rendah dari lantai sekitar 20 Cm.  Sementara lazimnya di tanah air, tradisi kita kaum Sunni, justru sebaliknya tempat Imam ditinggikan seperti panggung.  Bagi kaum Syiah, hal tersebut merupakan simbol bahwa pemimpin haruslah merendah, sebagai pelayan umat, bukan sebagai sosok yang harus diagungkan di atas singgasana.

Di antara buku-buku yang kami peroleh dari Konferensi itu berjudul: “Jama’ah Da’isy al-Takfiriyah”.  Mulanya penulis bingung, sejenis apa kelompok Da’isy itu, ternyata kata Da’isy merupakan singkatan dalam bahasa Arab “Daulah Islamiyah fi `Iraq wa Syam” yang dalam bahasa Inggeris disebut Islamic State of Iraq and Syam (Suriah), disingkat ISIS.  Buku ini membahas bagaimana kelompok radikalisme internasional menjalankan taktik, pengaruh dan peperangan di Iraq dan Suriah.  

Guna mempersegar kembali pemahaman tentang Iran dan Syiah, penulis sengaja bersilaturahim dengan Duta Besar Iran, Yang Mulia Mohammad Azad, awal September, hari Rabu lalu di Kedutaan Besar Iran. Penulis diterima dengan sangat ramah penuh persahabatan, berbincang sekitar satu jam.  Beliau sempat menyebut latar belakang penulis dari Partai yang berideologi Soekarno yang dikagumi.  Perbincangan kami seputar perlunya membangun pemahaman dan sikap moderasi dalam kehidupan beragama, baik internal Islam maupun lintas agama dengan pendekatan budaya. 

Penulis mengungkapkan bahwa pada awal perkembangan Islam di Indonesia, hubungan internal umat Islam, termasuk Sunni dan Syiah berlangsung harmonis.  Banyak tradisi kaum Sunni di Indonesia yang mirip dengan tradisi kaum Syiah, misalnya peringatan 10 Muharam setiap tahun.  Di beberapa daerah tertentu tradisi ini masih kuat, misalnya di Bengkulu dan Pariaman Sumatera Barat, masih ditemukan tradisi “Tabot”, yakni upacara memperintati wafatnya Sayidina Husein, cucu Rasulullah SAW di Karbala.  Sebagai bentuk penghormatan kepada Husein bin Ali, masyarakat setempat membuat semacam peti jenazah sebagai simbol dukacita atas syahidnya Sayidina Husen, diarak menuju pemakaman setempat yang disebut pula sebagai Makam Karbala.   

Penulis pun teringat pendapat Mahaguru Sutan Takdir Alisyahbana, dosen kami di Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1986, bahwa boleh jadi aliran Islam yang pertama masuk ke Indonesia adalah madzhab Syiah, sebelum datangnya penganjur Islam secara massif dari madzhab Sunni.  Hal itu sekedar contoh, bahwa sebenarnya tidak sulit bagi kita membangun keharmonisan hubungan Sunni – Syiah, bahkan hubungan lintas agama secara umum di Indonesia dengan pendekatan budaya keseharian bangsa kita sendiri.

Perlunya meningkatkan keharmonisan antar aliran dan ormas internal Islam, bahkan dengan umat agama lain, adalah agar umat Islam dapat menjadi pelopor pembangunan peradaban bangsa di Nusantara yang damai dan berkemajuan.  Pembangunan peradaban meniscayakan hubungan baik dengan semua pihak, lintas agama bahkan lintas bangsa, guna memperkaya pengalaman demi kemaslahatan bersama. 

Dari bangsa Iran misalnya, dengan sejarah panjang budaya Persia ribuan tahun, kita dapat belajar dalam berbagai aspek.  Setidaknya ada tiga hal yang patut kita tiru dari bangsa Iran moderen; pertama, soliditas rakyat mereka dalam menghadapi ancaman ideologi, politik dan ekonomi dari luar; Kedua, bahwa Iran merupakan negara yang cukup lama mengalami embargo ekonomi dari Amerika dan Eropa, namun kesibukan pembangunan infrastruktur tetap marak seolah embargo tidak berpengaruh terhadap kemandirian ekonominya.  Ketiga, mereka dikenal sebagai penganut Islam yang taat, namun mereka tetap mempertahankan budaya luhurnya.  Mereka tetap menggunakan bahasa Persia walaupun dengan aksara Arab yang disempurnakan. Juga masih dijumpai sentra-sentra budaya asli Persia menampilkan keindahan masa lalunya. 

Tiga hal tersebut sangat mirip dengan spirit trisakti Bung Karno dalam membangun Negara, yakni: merdeka dari segi politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berartabat dalam berbudaya.  Dengan kata lain untuk membangun peradaban ke depan, bangsa kita juga harus tetap pada jati dirinya sendiri; harus solid membela NKRI dari segala ancaman ideologi, baik itu kapitalis, komunis maupun ide khilafais.

Soliditas umat kita lebih satu dekade terakhir terasa terkikis, sangat sering terjadi gesekan, penuh hujatan dan fitnah.  Kita harus memperkokoh kembali soliditas ini, sebab jika tidak, tentu akan memberi peluang masuknya ideologi asing dan lahirnya radikalisme yang dapat menjadi tanah suburnya terorisme.  Situasi umat kita sekarang persis situasi yang dikhawatirkan dalam buku “Jamaat Da’isy al-Takfiri” yakni menjalarnya antek-antek ISIS ke mana-mana yang intinya menciptakan tiga hal pendukung radikalisme yakni: konflik (al-tafarruq), tindak kekerasan dan kegaduhan (al-‘unfu), dan mempengaruhi banyak pengikut (al-tab’iyah) dengan opini yang kuat, termasuk hoaks via media sosial. Untuk itu, mari bersatu meluruskan kembali kondisi tersebut, demi kedamaian dan kerukunan bangsa kita.  Wallahu A’lam bi al-showabi.[***]

Oleh: Prof. Dr. Hamka Haq, MA

Ketua Umum Baitul Muslimin Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *