Bendungan Way Sekampung, Sumber Pengairan Pertanian

GENIAL. Bendungan Way Sekampung yang berada di Desa Banjarejo, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan rencana pembangunan, baik di tingkat daerah maupun pusat. Bendungan yang mulai dibangun tahun 2016 ini dapat meningkatkan pemanfaatan sumber daya air di Sungai Way Sekampung yang mengalir begitu saja sampai ke laut. Melalui bendungan, air Sungai Way Sekampung akan tertampung dan bermanfaat lebih banyak, terutama untuk sektor pertanian.

Keberadaan Bendungan Way Sekampung melengkapi dua bendungan lainnya yang berada di daerah aliran sungai yang sama, yaitu Bendungan Batu Tegi yang berada di hulu sungai dan Bendungan Margatiga yang berada di hilir sungai serta satu Bendung Jabung. Bendungan Batutegi di Tanggamus telah lama beroperasi, sedangkan Bendungan Margatiga dan Bendung Jabung di Lampung Timur masih dalam tahap konstruksi. Ketiga bendungan ini hampir sama dengan bendungan yang ada di Jawa Barat, yaitu Bendungan Saguling, Bendungan Cirata, dan Bendungan Jatiluhur yang berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) yang sama: Citarum.

Pembangunan Bendungan Way Sekampung sangat penting seiring dengan meningkatnya kebutuhan air, khususnya di Pringsewu dan umumnya di Lampung. Manfaat untuk sektor pertanian (irigasi) tak hanya untuk Pringsewu, namun dalam konteks Lampung yang lebih luas bendungan ini menjadi penopang utama pembangunan sektor pertanian. Sektor pertanian menempati posisi yang strategis karena telah menjadi sektor utama meningkatnya pertumbuhan ekonomi di Lampung. “Lampung tercatat sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sumatera karena sektor pertanian,” jelas Gubernur Lampung Arinal Junaidi.

Kebijakan peningkatan pemanfaatan sumber daya air Sungai Way Sekampung untuk memenuhi kebutuhan daerah, baik irigasi, air baku, maupun pembangkit listrik telah menjadi prioritas pemerintah agar Indonesia dapat berdikari, terutama berkaitan dengan kemandirian pangan. Pengeloaan sumber daya air yang baik dan menjadi kekuatan dalam menjaga momentum kemajuan ekonomi telah menjadi komitmen Pemda Pringsewu dan Pemprov Lampung, seperti yang tertuang dalam dokumen-dokumen rencana kebijakan.

Optimalisasi sumber daya air Sungai Way Sekampung melalui bendungan merupakan bagian dari upaya mewujudkan Visi Pringsewu “Berdaya Saing, Harmonis dan Sejahtera”, khususnya mengenai “daya saing”. Berdaya Saing mengandung makna “suatu kemampuan dan ketangguhan terhadap tatanan dasar masyarakat Pringsewu yang memiliki keunggulan kompetitif untuk menghadapi persaingan global di masa yang akan datang. Tatanan dasarnya mencakup infrastruktur yang memadai, sumberdaya manusia yang berkualitas, hasil produksi yang memenuhi standard global, iklim usaha yang kondusif, dan pemerintahan daerah yang profesional dan bersih.”

Upaya untuk mewujudkan daya saing antara lain meningkatkan pembangunan infrastruktur pelayanan dasar secara merata dan mempertahankan serta meningkatkan ketahanan pangan secara berkualitas dan berwawasan lingkungan. Sasaran mencakup empat hal, yaitu: (a) tersedianya jaringan jalan dan jembatan yang berkualitas dan merata untuk melayani pergerakan orang dan barang, (b) tersedianya sistem transportasi yang dapat diakses dan terintegrasi secara sistimatis, aman dan nyaman sesuai standard perhubungan, (c) tersedianya infrastruktur pemerintahan dan publik yang mencerminkan identitas masyarakat Pringsewu, dan (d) tersedianya sistem jaringan drainase yang optimal dalam rangka pengendalian banjir.

Sedangkan yang berkaitan dengan ketahanan pangan sasarannya adalah tersedianya stok dan distribusi pangan untuk mendukung aktivitas masyarakat dan peningkatan dan pemeliharaan jaringan irigasi dan sistem pengairan lainnya. Demikian juga yang berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan petani, sasarannya adalah terlindunginya petani dari ancaman kegagalan panen dan meningkatnya produksi dan produktivitas pertanian, perikanan dan peternakan, dan peningkatan kualitas penyuluh pertanian, perikanan dan peternakan.

Berpijak pada visi dan misi tersebut, rencana pembangunan Bendungan Way Sekampung yang sudah lama itu mulai dimatangkan oleh Bupati Pringsewu Sujadi. Keseriusannya berawal dari pertemuan Bupati Sujadi bersama Presiden Jokowi di Jakarta tahun 2015. Ketika mendapat undangan untuk rapat koordinasi bersama Presiden, Bupati Pringsewu Sujadi segera menyiapkan “catatan” yang berisi pengajuan pembangunan bendungan di Pringsewu. “Waktu saya bertemu Presiden, saya sampaikan pengajuan dan Presiden menyetujui dengan catatan disediakan lahannya,” jelas Bupati Sujadi dalam perbincangan di komplek Bendungan Way Sekampung.   

Respon positif Presiden Jokowi itu kemudian ditindaklanjuti dengan proposal yang lebih substantif, baik menyangkut potensi sumber daya air maupun proyeksi pemanfaatan bendungan tersebut. Tak berbeda dengan rencana proyek infrastruktur lainnya, langkah berikutnya adalah studi kelayakan dan identifikasi wilayah yang kemungkinan akan masuk menjadi area genangan untuk kebutuhan penyiapan pembebasan lahan. Kegiatan ini dilakukan melibatkan banyak pihak, baik dari unsur pemerintah maupun swasta (konsultan). Semua proses itu membuahkan hasil ketika kegiatan konstruksi dimulai tahun 2016.

Setelah berlangsung selama lima tahun lebih, progress pembangunan Bendungan Way Sekampung sudah mencapai 96 persen dan dijadwalkan impounding (pengisian awal) tanggal 20 Agustus. Area genangan bendungan yang direncanakan diresmikan sebelum akhir tahun 2021 dan menelan anggaran hingga Rp 1,7 Triliun ini berada di dua kabupaten, yakni Pringsewu dan Tanggamus. Dari total luas 800 hektare, sekitar 667 hektare digunakan untuk genangan. Sebanyak 461 hektar genangan berada di Pringsewu, dengan 206 hektar sisanya berlokasi di Tanggamus.

Bendungan Way Sekampung memiliki kapasitas tampung 68 juta meter kubik. Banyak manfaat yang diperoleh dari bendungan ini. Manfaat utamanya adalah penyediaan air irigasi seluas 55.373 hektar dan irigasi untuk ekstensifikasi berupa pengembangan daerah irigasi rumbia extension dengan potensi luas 17.334 hektar. Bendungan ini juga diproyeksikan sebagai penyedia air baku sebesar 2.482 liter per detik untuk Kota Bandar Lampung, Branti, Kota Metro, mereduksi banjir sebesar 185 meter kubik per detik dan berpotensi sebagai sumber Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) sebesar 5,4 Megawatt (MW).

Selama proses dan kegiatan pembangunan bendungan berlangsung, tidak terdapat hambatan atau kendala yang berarti. Hal itu antara lain diakui Bupati Sujadi dan Kepala SNVT Pembangunan Bendungan BBWS Mesuji Sekampung. Menurut keduanya, hampir semua lapisan masyarakat merespon positif pembangunan Bendungan Way Sekampung. Kalau pun ada riak-riak kecil di lapangan, itu semua dapat diatasi berkat kerjasama yang sinergis dengan aparat keamanan. “Masyarakat menyambut baik karena memang bendungan Way Sekampung dibutuhkan,” jelas Bupati Sujadi.

Suasana kondusif itu juga tercipta tak hanya karena kegiatan sosialisasi yang persuasif, tetapi juga kesigapan aparat keamanan dalam merespon persoalan-persoalan yang terjadi di lapangan. Koordinasi BBWS Mesuji Sekampung, baik dengan tokoh-tokoh masyarakat, pihak keamanan maupun dengan kontraktor berjalan sangat sinergis. “Sinergitas inilah yang membuat persoalan-persoalan sosial bisa cepat teratasi dan tidak menimbulkan kegaduhan yang berarti,” ujar Kepala SNVT Pembangunan Bendungan Wahyu Prakoso.

Selain menggunakan pendekatan kultural—karena mayoritas masyarakat Pringsewu adalah pendatang—dari sisi konstruksi juga mengadopsi nilai-nilai kearifan lokal. Bangunan kantor dan masjid misalnya. Bangunan kantor menggunakan simbol “siger laki-laki” dan masjid menggunakan simbol “siger perempuan”. “Artinya, laki-laki bekerja dan perempuan berdoa. Model kearifan lokal seperti ini yang membuat masyarakat setempat mudah menerima dan merelakan lahan-lahan yang terdampak,” jelas Kepala PPK Bendungan BBWS Mesuji Sekampung, Heri Fitriansyah. 

Benduangan Way Sekampung yang akan impounding 20 Agustus 2021 menjadi energi baru dalam konteks proyeksi Lampung sebagai “lumbung pangan nasional”. Aliran air dari waduk tak hanya akan meningkatkan luasan lahan yang akan terairi, masa tanam pun akan meningkat: yang semula hanya dua kali akan meningkat menjadi tidak kali. “Selain itu, saya berharap air dari Bendungan Way Sekampung atau bendungan lainnya di Lampung juga dimanfaatkan untuk sektor pertanian non-sawah agar produktivitas sama-sama meningkat,” harap Gubernur.    

            Jika telah beroperasi penuh, Bendungan Way Sekampung juga diproyeksikan sebagai destinasi pariwisata. Daya tarik lokasi bendungan tampak dari struktur bangunan dan area taman yang berada di sekitar lokasi bendungan. Unsur seni dalam desain kawasan bendungan model Bendungan Way Sekampung, baik bangunan utama maupun fasilitas penunjang ini sejalan dengan harapan Menteri PUPR, bahwa desain konstruksi area bendungan tak hanya memenuhi unsur-unsur teknis konstruksi, tetapi juga mesti mendapat sentuhan seni agar memiliki daya tarik sebagai destinasi wisata. 

Salah satu keunikan Bendungan Way Sekampung adalah adanya bukit di tengah genangan yang tak jauh dari bangunan bendungan. Bukit ini akan membentuk sebuah pulau dan akan dijadikan lanskap tempat wisata. Pemda Pringsewu melalui BUMD yang akan mengelola area waduk sebagai destinasi wisata akan menjadikan bukit tersebut untuk arboretum, suatu kawasan konservasi aneka tanaman. Di kawasan tersebut akan ditanam pohon tin dan zaitun serta tanaman lain yang menunjang kawasan tersebut sebagai “wisata kebun”. Untuk menjangkau bukit di tengah waduk ini, kelak akan disediakan perahu untuk menyeberang.

Satu hal yang perlu ditekankan bahwa di area tersebut tak akan ada pusat jajanan atau sentra kuliner demi menjaga kebersihan kawasan waduk dari sampah-sampah sisa makanan, termasuk juga larangan adanya budidaya ikan keramba. Proyeksi kawasan hilir bendungan yang dengan sebuah bukit yang tertata rapid an asri di area genangan tentu menjadi keistimewaaan Bendungan Way Sekampung dibanding bendungan lain di Indonesia. [***]

Ian Suherlan

Peneliti Gading Media Utama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *