Bendungan Randugunting, Solusi Air Daerah Kering

GENIAL. Peresmian Bendungan Randugunting oleh Presiden Jokowi pada 5 Januari 2022 disambut gembira oleh masyarakat Blora. Meskipun acara baru diselenggarakan selepas zuhur, namun sejak pagi masyarakat sekitar Desa Kalinanas dan Desa Gaplokan Kecamatan Japah sudah berjajar di pinggir jalan menanti kedatangan Presiden. Selain menyaksikan peresmian Bendungan Randugunting, mereka juga mendapat pembagian paket sembako yang merupakan bagian dari agenda Presiden di Blora Mustika itu.

Warga berbondong-bondong dengan rona wajah riang dan tentu dengan protokol kesehatan yang ketat mendekat ke lokasi ketika pesawat yang ditumpangi Presiden mendarat sempurna. Dengan komando dari pihak keamanan yang melibatkan TNI-Polri, warga turut berbaris tertib dan sesekali memanggil-manggil dan ingin mendekati Presiden. Meskipun siang itu sinar matahari sangat terik, namun tak menyurutkan semangat warga sekitar untuk turut menyaksikan setiap sesi acara yang dijalani Presiden.

Kegembiraan warga itu tak hanya karena mendapat bantuan sembako, tetapi juga menyaksikan lansung peresmian Bendungan Randugunting. Keberadaan bendungan ini sangat berarti bagi masyarakat Blora, terlebih daerah ini tergolong sebagai daerah kering. Bendungan  dapat meningkatkan ketersediaan air, baik untuk pemenuhan air baku maupun irigasi pertanian. “Kunci ketahanan dan kemandirian pangan adalah air. Dengan mengucapkan Bismillaahirrahmanirrahiem, Bendungan Randugunting saya resmikan,” demikian Presiden Jokowi mengakhiri sambutan singkatnya yang diiringi riuh tepuk tangan warga.

Pembangunan Bendungan Randugunting yang selesai dikerjakan lebih cepat 10 bulan dari yang direncanakan, telah melewati rentang waktu yang sangat panjang. Bendungan ini sudah  direncanakan sejak tahun 1985 dan selama kurun sekitar 33 tahun berbagai tahapan telah dilalui hingga tahun 2018 kegiatan konstruksi dimulai. Panjangnya rentang waktu ini menunjukkan betapa besarnya harapan masyarakat Blora akan terbangunnya infrastruktur sumber daya air yang merupakan bagian dari proyek strategis nasional ini.

Pembangunan infrastruktur sumber daya air ini merupakan kebijakan strategis untuk percepatan pembangunan di Blora dan daerah-daerah yang berbatasan, yaitu Pati dan Rembang. “Dalam konteks pembangunan kawasan, bendungan ini sangat strategis. Kabupaten Pati dan Rembang akan turut mendapat manfaat dari bendungan, terutama untuk pembangunan pertanian. Sementara Blora sendiri lebih banyak mendapat manfaat air baku dan destinasi pariwisata,” jelas Bupati Blora, Arief Rohman dalam sebuah percakapan.

Seperti halnya kabupaten-kabupaten lain di Jawa Tengah, Blora, Pati, dan Rembang  termasuk daerah yang memiliki potensi pertanian yang menjanjikan. Dengan hamparan lahan pertanian yang sangat luas, sebagian besar mata pencaharian penduduk tiga daerah tersebut bergantung pada sektor pertanian. Sektor pertanian utama tak lain adalah padi. Sedangkan di Blora sendiri, selain padi adalah jagung. Bahkan Blora tercatat sebagai kabupaten penghasil jagung nomor dua di Jawa Tengah.

Peningkatan kapasitas dan kualitas infrastruktur sumber daya air di Blora sangat mendesak mengingat intensitas hujan di daerah ini sangat rendah. Sepanjang tahun 2020 misalnya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik Blora 2021, rata-rata curah hujan sebanyak 1.929 mm dengan jumlah hari hujan sebanyak 91 hari. Hari hujan terbanyak di 2020 tercatat pada bulan Januari dan Desember yaitu sebanyak 14 hari hujan. Adapun curah hujan tertinggi tercatat pada bulan Februari sebesar 3.941 mm dan terendah pada bulan Juni sebesar 140 mm. 

Dengan kondisi wilayah seperti itu, pengelolaan potensi sumber daya air menjadi sangat penting bagi Blora. Sumber daya air merupakan bagian dari sumber daya alam yang mempunyai sifat mengalir sehingga membentuk suatu sistem yang meliputi berbagai komponen sumber daya yang akan terkait satu sama lain. Pengelolaan sumber daya air akan berdampak terhadap kondisi sumber daya lainnya dan sebaliknya pengelolaan sumber daya lainnya dapat berpengaruh terhadap kondisi sumber daya air. 

Pengelolaan sumber daya air di Blora yang merupakan bagian dari Wilayah Sungai (WS) Jratunseluna menghadapi sejumlah isu strategis. Dalam dokumen Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Jratunseluna disebutkan, isu-isu strategis itu antara lain: (a) kekurangan air baku pada musim kemarau akibat terbatasnya jumlah tampungan-tampungan air di daerah hulu DAS dan kurang efisiennya penggunaan air oleh masyarakat setempat dan (b) erosi lahan yang cukup besar di beberapa wilayah di Wilayah Sungai Jratunseluna akibat faktor jenis tanah yang erosive.

Potensi sumber daya air di WS Jratunseluna sebesar 15,64 milyar m3 dan baru dimanfaatkan sebesar 20,99 persen. Curah hujan tahunan bervariasi, antara 900-3.700 mm. Kondisi topografi dominan dataran rendah, di bagian selatan perbukitan dan pegunungan terjal. WS Jratunseluna terdiri dari 69 DAS. Luas wilayah sungai di WS Jratunseluna mencapai  9.896,01 km² yang mencakup Kabupaten Kendal, Semarang, Boyolali, Sragen, Grobogan, Demak, Jepara, Kudus, Pati, Blora, Rembang, Kota Semarang dan Kota Salatiga

Sementara itu, di sebelah selatan, terdapat Sungai Bengawan Solo yang terletak di Kecamatan Cepu. Sungai terbesar di Pulau Jawa dengan panjang sekitar 600 km ini belum diperhatikan secara penuh. Tak sedikit bangunan liar seperti warung-warung dan pemukiman warga yang tidak memiliki sertifikat dan berstatus ilegal. Penduduk di sekitar bantaran Bengawan Solo mayoritas memiliki mata pencaharian sebagai penambang pasir yang diambil dari sungai. Kawasan ini juga kerap mengalami banjir hingga masuk ke pemukiman warga.

Banjir menjadi salah satu persoalan yang kerap dihadapi dalam pengelolaan sumber daya air di Blora. Peristiwa terbaru terjadi awal tahun 2021 misalnya. Wilayah perkotaan Kecamatan Cepu dilanda banjir yang disebabkan hujan lebat disertai tiupan angin kencang. Hujan lebat yang berlangsung sekitar 2,5 jam menjadikan tujuh kawasan di Cepu banjir. Banyak rumah warga yang terendam terendem air setinggi 20-100 centimeter. Air menggenangi pemukiman di beberapa titik di antaranya kawasan Ngareng Lorong I, II, Ngareng Trem dan di Gang VIII.

Bendungan Randugunting yang dibangun bersamaan dengan 61 bendungan lainnya yang tersebar di berbagai daerah dan memiliki total kapasitas tampungan sebesar 14,42 juta m³ antara lain bermanfaat sebagai pengendali banjir. Bendungan ini dapat juga mendukung penyediaan air baku untuk tiga kabupaten, yaitu Blora, Pati, dan Rembang, sumber irigasi pertanian, dan pengembangan pariwisata.

Lokasi bendungan yang tidak terlalu jauh dengan kota menjadikan kawasan bendungan sebagai destinasi pariwisata sangat mudah dijangkau. Landscape bendungan yang dibangun dengan ikonik dan terdapat gardu pandang memudahkan melihat kawasan genangan. Terdapat juga gazebo-gazebo untuk tempat beristirahat. Daya tarik lainnya ialah kawasan bendungan yang masih dikelilingi perbukitan dan kawasan hijau guna sebagai retensi banjir.

Kearifan lokal masyarakat Blora seperti perangkat-perangkat sate, budaya suku Samin, dan kayu jati menjadi inspirasi dalam mendesain bangunan fasilitas publik di kawasan Bendungan Randugunting. Beberapa fasilitas publik yang mengadopsi kearifan lokal antara lain pikulan sate yang menjadi ikon taman publik bendungan, Balai Samin yang menjadi kantor pengelola bendungan, dan menarap pandang yang menyerupai daun jati. Pengadopsian kearifan lokal itu tak hanya membuat fasilitas umum sangat ikonik, tetapi juga wujud penghargaan terhadap budaya lokal masyarakat Blora.

Berbeda dengan bendungan-bendungan lainnya yang juga dibangun dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, pelaksanaan konstruksi Bendungan Randugunting lebih cepat dari target awal sesuai kontrak, yaitu November 2022. Bendungan dapat selesai pada Desember 2021. Pembangunan bendungan ini merupakan wujud kinerja yang sangat sinergis antarinstitusi terkait. Lebih cepat selesai dari batas waktu yang direncanakan, tentu membuat gembira banyak kalangan, terutama PT Wijaya Karya-PT Andesmont Sakti (KSO) selaku pelaksana konstruksi.

Seperti kegiatan pembangunan infrastruktur pada umumnya, pembangunan bendungan seringkali menemui banyak hambatan, baik hambatan teknis maupun non-teknis. Namun dalam konteks Bendungan Randugunting, meskipun menghadapi berbagai hambatan, satu persatu hambatan itu dapat teratasi melalui serangkaian tindakan yang proporsional dan terukur. Faktor utama yang membuat bendungan ini cepat selesai adalah pembebasan lahan. Sebagian besar lahan yang digunakan adalah milik Perhutani dan sebagian kecil milik warga yang tidak ada  bangunan rumah sehingga pembebasannya sangat mudah. 

Pelaksanaan konstruksi Bendungan Randugunting relatif lancar, hampir tak ada hambatan yang berarti yang menghambat pekerjaan. Sebaliknya, dengan kekompakan dan kesigapan tim dalam mengatasi berbagai hambatan, Bendungan Randugunting selesai lebih cepat 11 bulan dari yang direncakana. “Saya bangga menjadi tim pembangunan Bendungan Randugunting. Kami bisa menyelesaikan dengan percepatan yang luar biasa,” ujarnya Irwan Nooryadi, Konsultan Pengawas, mengungkapkan kebanggaannya. 

Keberadaan Bendungan Randugunting melengkapi dua bendungan yang sangat tua yaitu Bendungan Tempuran (1916) dan Bendungan Greneng (2023). Sedangkan bendung dan embung yang sudah lama beroperasi antara lain Bendung Jetis, Embung Rowo, dan Embung Tirto Langgeng. Diakui oleh Bupati Blora Arief Rohman, kebijakan membangun infrastruktur sumber daya air ini memberi efek pada pembangunan infrastruktur transportasi. “Selain bendungan, Blora juga mendapat jalan alternatif dari Japah-Kalinanas sehingga memudahkan akses masyarakat Blora,” jelas Bupati. 

Setelah Bendungan Randugunting selesai dan resmi beroperasi, Pemda Blora bersama Pemda Bojonegoro berencana untuk membangun bendungan baru, yaitu Bendungan Karangnongko yang akan membendung Sungai Bengawan Solo. Rencana ini tak  hanya  akan menambah kapasitas tampungan sumber daya air di Jawa Tengah dan Jawa Timur, tetapi juga kelanjutan dari pembangunan jembatan terusan Bojonegoro-Blora yang menghubungkan Desa Ngelo, Kecamatan Kradenan, Blora. [***]

Ian Suherlan

Peneliti Gading Media Utama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *